Archive for Desember 5th, 2007|Daily archive page

PUTU WIJAYA: MENGARANG ITU “BERJUANG!”

(Arsip majalah Berita Buku, Oktober/November 1995)

/ Budiman S. Hartoyo

Ia adalah seniman yang “berjuang” untuk hidup dari mengarang. Baginya, waktu harus digenggam, disiasati, agar bisa “dimainkan” hingga produktif. Begitu pula tema cerita dan lakon yang ditulisnya. Imajinasinya begitu liar, hingga tokoh-tokoh ceritanya “hidup” tak terkendali. Kreativitas yang luar biasa.

SIAPA pun akan kaget dan merasa terteror berhadapan dengan Putu Wijaya. Padahal, ia bukan garong atau teroris. Meskipun semua orang mngenalnya sebagai seniman, Putu tidak menampakkan diri sebagai “seniman” dengan rambut gondrong dan pakaian lusuh. Wajahnya tidak kuyu pucat karena kurang tidur atau lantaran terlalu banyak minum kopi dan merokok. Ia selalu tampil segar, dan gagah. Bahkan bisa dijamin ia akan tertawa ngakak terbahak-bahak jika orang menyebutnya lebih mirip seorang “jagoan”. Atau pemuda masa kini.

           Bayangkan. Tubuhnya yang tinggi kekar, dengan kulit sawo matang dan wajah keras itu, dibalut kaus oblong (lebih sering berwarna gelap, terkadang bergambar seperti kesukaan anak muda), celana jins (impor atau bikinan Cihampelas, Bandung), dan sepatu boot produksi Cibaduyut, atau sepatu kets seperti anak-anak muda. Dan di kepalanya selalu bertengger sebiji Baretta warna gelap, krem atau putih. Entah kenapa. Mungkin, siapa tahu, sebagai trade mark. Atau sekedar untuk menutupi kepalanya yuang botak berambut tipis itu…..

           Tapi banyak orang, juga Putu sendiri, tidak ambil posing. Sebab, ia sudah “telanjur” dikenal sebagai seniman serba bisa dengan banyak ketrampilan: penulis cerita pendek, naskah drama, cerita dan skenario sinetron dan film, novel, essai, sutradara teater dan film. Bahkan pernah pula sebagai wartawan. Keistimewaan bangsawan Bali ini bukan hanya lantaran penampilan dan ketrampilannya, tapi juga tekadnya untuk menjadikan profesi kepengarangan sebagai sumber kehidupan.

            Dan dia berjuang keras untuk itu. Tentu dengan tetap mempertahankan nilai sastra, tanpa tergelincir pada komersialisme. Ia tidak setuju pada pernyataan yang pernah dilontarkan oleh penulis lain, yang juga sangat produktif, Arswendo Atmowiloto, bahwa “mengarang itu gampang” – sebuah “rumus” mengarang yang sempat dibukukan, yang belakangan menjadi semacam panduan bagi para pemula. “Itu omong kasong,” teriak Putu Wijaya dengan kening berkerut. Selama ini, Putu harus berjuang manaklukkan diri, waktu dan imajinasi untuk menulis.

           Anda dikenal sebagai seniman serba bisa yang sangat disiplin dengan waktu, hingga sangat produktif.

            Begini. Saya kan pernah bekerja di TEMPO. Ketika pertama kali bekerja di majalah itu, 1971, ada yang heran bahwa saya menjadi wartawan olahraga. Tapi justru di TEMPO itulah saya mendapat pelajaran berharga. Di sana saya dilatih oleh “budaya pers”. Sebelum di TEMPO, untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek, saya memerlukan waktu berhari-hari. Sebab, ketika itu menulis cerita pendek hanya sebagai kesenangan, menunggu datangnya inspirasi, tanpa target waktu. Ketika itu saya belum mengenal istilah dead line yang lazim di kalangan pekerja pers.

           Kalau inspirasi macet atau sebuah kalimat patah, saya sulit melanjutkannya. Selama di TEMPO saya selalu ditekan dengan “batas waktu” yang disebut dead line itu. Saya belajar bekerja dengan “tekanan” untuk mengejar dead line, momok yang menakutkan itu. Walaupun bidang olahraga tidak saya sukai, tapi saya anggap sebagai tugas untuk mencari nafkah. Redaktur Pelaksananya Usamah, kebetulan juga wartawan dan dramawan. Dia selalu mengejar-ngejar saya agar segera menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.

           Dan di situ saya belajar menulis sesuatu yang semula tidak saya ketahui, menyusun persoalan, belajar bekerja dalam “tekanan” waktu. Jadi saya berlatih menghargai waktu. Tapi barangkali saya memang sudah punya “bakat” untuk berdisplin. Waktu kecil dulu, ayah selalu mengajarkan saya menghargai waktu. Beliau memuja tokoh-tokoh dunia yang berdisiplin keras, seperti Hitler, Napoleon, Roosevelt. Karena sangat menghargai waktu, beliau makan cepat sekali, sebab katanya hidup ini berkejaran dengan waktu.

           Beliau mendidik saya bangun pagi-pagi, jangan sampai kedahuluan matahari. Memang saya tidak harus jadi tentara. Beliau ingin saya jadi dokter. Mungkin beliau kecewa, tapi saya tidak mampu. Sebenarnya beliau tidak terlalu memaksa saya juga. Kalau tidak berhasil ya tidak apa-apa, tapi yang penting disiplin dalam belajar, misalnya. Beliau itu tuan tanah, tapi gaya hidupnya sangat sederhana. Mungkin karena semangat disiplin tadi. Walaupun bungsu dari lima bersaudara, saya tidak menikmati kemanjaan. Saya harus hidup disiplin.

           Sejak kecil saya juga terbiasa hidup dalam suasana kompetisi, tapi tidak sampai berkelahi. Dengan latar belakang seperti itulah, maka ketika bekerja di TEMPO saya jadi terbiasa dengan “tekanan” batas waktu itu. Selain itu, saya juga belajar memformat pikiran dalam bentuk yang sangat saya senangi – seperti pernah saya diskusikan dengan Goenawan Mohamad – yaitu mengungkapkan sesuatu dengan gaya “orang bodoh”. Jadi, yang lebih bodoh bisa memahami, yang lebih pintar tidak tersinggung karena tidak merasa digurui. Jadi enak dibaca.

           Saya juga belajar menulis laporan jurnalisme denga gaya sastra, belajar mencari idiom baru dalam mengungkapkan pikiran, memilih kata yang tepat, menghindari pengulangan kata. Tapi terkadang pengulangan juga diperlukan untuk memberi tekanan. Saya juga belajar mendengarkan orang lain. Kalau mengarang karya sastra kan tidak mendengarkan orang lain. Tapi jurnalisme kelompok TEMPO mengharuskan interpiu berbagai pihak, bothside coverage. Saya belajar menetukan angle dengan keterangan dari berbagai pihak, hingga imbang.

Lantas bagaimana Anda membagi waktu dan membagi perhatian terhadap beberapa kegiatan, seperti menulis, latihan teater, dan sebagainya?

           Saya ini aktor. Nah, seorang aktor yang terbiasa dengan akting kan terbiasa pula “berteman” atau “mempermainkan” perasaan-perasaan. Secara sadar saya bisa mengendalikan perasaan saya: marah dulu, lalu dua menit kemudian berhenti, lalu tertawa. Keaktoran inilah yang membantu sekali. Lalu, saya juga sutradara yang biasa mengatur atau bekerja sama dengan orang lain. Di lain pihak, saya juga penulis yang bercerita kepada oprang lain. Tiga hal itu membentuk disiplin tersendiri dalam proses kreatif saya.

           Bagaimana “mempermainkan” perasaan itu, contohnya begini. Suatu hari isteri saya keguguran di Bandung, Maret 1994. Lalu saya ke rumah Harry Roesli untuk mencari teman ngobrol. Tapi dia tidak ada, lalu saya tinggalkan surat. Setelah itu saya ke Jakarta menulis skenario sinetron komedi Warung Tegal untuk TPI. Malam itu ibu dan bapaknya Harry Roesli menelepon, menasihati saya agar bersabar. Saya terharu dan menangis. Setelah itu saya kembali ke komputer menerusklan menulis skenario komedi. Sementara air mata saya bercucuran, saya menulis komedi yang harus lucu. Pahit dan manis sekaligus, saya nikmati…..

           Jadi saya bisa menunda atau mempercepat perasaan. Akrobatik perasaan seperti itu bukan berarti mengurasi rasa simpati terhadap suatu musibah, tapi semata-mata agar bisa survive dan bisa tetap menulis. Jadi semacam kiat untuk mengatur waktu dan perasaan dalam menghadapi situasi yang berbeda. Seperti misalnya ketika ayah saya wafat, 1970. Ketika itu saya sedang menulis mengenai sebuah diskotik. Saya tentu saja sedih, tapi kesedihan itu saya tunda sebentar, sekitar dua jam, untuk menulis suasana diskotik yang meriah dan gembira.

           Saya bisa mengatur diri dan waktu. Misalnya, saya sedang menulis lalu merasa capai, saya lantas beristirahat, tidur 10 menit. Itu cukup. Karena saya terbiasa disiplin, maka 10 menit kemudian saya benar-benar bisa bangun, kembali segar, dan kembali bekerja lagi. Saya tidak pernah telanjur pulas hingga pekerjaan terbengkelai. Metabolisme saya tidak seperti orang normal yang perlu tidur selama delapan jam. Kalau ada waktu saya tidur, tapi kalau tidak ada waktu untuk tidur, ya bekerja terus. Tapi jam enam sore kalau tidak ada yang dikerjakan ya ngantuk. Jadi, tidur itu bisa dicicil….

           Saya bisa “berdamai” dengan kehidupan dan pekerjaan. Dewi, isteri saya, sering menyetop saya bekerja dan menyuruh saya istirahat. Tapi saya harus berhenti pada saat dan momentum yang tepat, yaitu ketika inspirasi sedang jalan. Saya teringat pada buku Mochtar Lubis di tahun 1960-an dulu, Tehnik Mengarang, yang sangat menyenangkan. “Kalau kau meninggalkan tulisan pada saat kau sedang bergairah menulis, maka kau akan mudah kembali pada tulisan tersebut.” Berhenti sebentar, mengendapkan gagasan, lalu kembali menulis hingga bisa nyambung lagi. Jadi, jangan berhenti menulis pada saat inspirasi kita macet. Itu berbahaya sekali. Tulisan itu akan jadi batu.

PUTU Wijaya cukup “kejam” terhadap diri sendiri. Selain istrerinya, Dewi, menjaga kesehatannya dengan ketat, ia juga berusaha mendisiplinkan diri. Ia tidak merokok dan selalu minum air putih. “Minum sebagai kebutuhan tubuh, bukan hanya karena haus saja,” katanya. Masakan sehari-harinya tidak dibumbui dengan vetsin. Dan dengan cermat Dewi mampu makanan yang berkolesterol dan yang tidak. Tapi ia tidak jogging. “Itu kan membuang-buang waktu saja. Apalagi udara di sekitar kita sekarang ini kan sudah tercemar,” katanya.

           Dulu pernah yoga, kini Putu melakukan olah pernafasan “segi tiga”. Satu menit menarik nafas, satu menit menahan nafas, satu menit menghembuskan nafas. Perlahan-lahan dan sangat halus. Mula-mula bisa selama dua-tiga detik, lama kelamaan diperpanjang sampai satu menit. Berapa kali? “Sampai capai, sampai badan terasa panas dan berkeringat. Itu efektif sekali,” katanya. Selain itu, begitu bangun pagi ia melakukan sit up dan push up sebanyak 60 kali, lalu lari di tempat. Luar biasa. Bayangkan, tubuh Putu Wijaya yang tegap kekar itu berleleran keringat….

Anda juga menulis repertoire drama absurd. Ini sebagai pilihan, ataukah memang dengan sendirinya Anda tumbuh sebagai penulis naskah absurd?

           Begini. Banyak orang mengira saya ini tegang terus, karena hidup penuh disiplin dan sangat efisien menggunakan waktu. Padahal tidak. Saya ini hidup teratur, dan cukup santai. Pendeknya, hidup ini di tangan saya, dan bisa saya mainkan semau saya. Jadi lebih enak. Mungkin karena hidup saya yang teratur inilah, terasa ada sesuatu yang hilang. Dan yang hilang itu ternyata muncul dalam imajinasi saya. Imajinasi itu liar sekali. Bukan imajinasi yang dicari-cari atau direnung-renungkan, tapi muncul dengan sendirinya.

           Tentu orang tidak percaya bahwa saya tidak dipengaruhi atau belum pernah membaca Iwan Simatupang atau Bertolt Brecht. Saya membaca Iwan dan Brecht, dan pengaruh para seniman besar itu memang tak mungkin dihindari. Tapi saya ini hidup dan berkarya seperti “menggelinding” saja, tidak terlalu takut pada pengaruh. Lagi pula tidak mungkin pengaruh itu bisa menggerakkan kita untuk berkarya. Sebab, kalau hanya karena pengaruh, orang tidak mungkin menjadi dirinya sendiri, apalagi menjadi besar.

           Kembali pada imajinsi. Imajinasi saya banyak sekali, dan bergerak sangat liar. Saya tidak merasa heran karena saya bisa menikmatinya. Imajinasi itu bergerak tanpa batas-batas ukuran manusia yang normal. Hal itu bagi saya normal saja, karena saya anggap sebagai karunia Tuhan kepada saya. Tapi kadang-kadang, di tengah “menikmati” imajinasi yang liar itu, rasio saya meloncat dan bertanya kaget, “Lho maksudnya apa ini?” Tapi lantas saya biarkan saja. Itu sebabnya saya takut membaca karya yang sudah jadi. Lebih baik menulis karya yang baru.

           Dalam menghidupkan imajinasi itu, ada banyak hal yang tidak kita sadari, tidak logis. Imajinasi jalan dan bergerak terus. Dan kadang-kadang saya tidak mengerti, kehilangan jejak. Setelah dicari-cari sebabnya atau urutannya, kadang-kadang ketemu kadang-kadang tidak. Kalau tidak ketemu ya saya biarkan saja. Kalau itu bagus, saya biarkan. Tapi kalau tidak bagus, saya mengubahnya. Tapi terkadang setelah diingat-ingat, ketemu juga. Pernah suatu naskah berjudul Lho saya coba hilangkan “aku”-nya. Setelah diikut-sertakan dalam sayembara, jurinya memaki-maki, “Gila! Naskah apaan ini?”

           Bertahun-tahun kemudian saya membacanya lagi dan mengubahnya. Saya kembalikan “aku”-nya, dan jadilah seperti sekarang. Satu lagi, naskah novel berjudul Merdeka, bertahun-tahun saya membiarkannya. Belakangan saya baca lagi, dan saya ingin mengubahnya. Tapi kemudian saya putuskan untuk tidak mengubahnya, lalu saya kirimkan ke Balai Pustaka. Ternyata diterima, dan diterbitkan. Novel ini unik dan liar sekali. Sampai-sampai sastrawan Satyagraha Hoerip, mengkritik saya. Katanya, saya tidak bisa membedakan antara “bablas”, “liar”, dan “merdeka”.

           Seharusnya ia tahu, bahwa omongan atau pendapat tokoh dalam karya saya kan bukan pendapat saya. Kalau ada anggapan seperti itu kan lucu sekali, dan juga sangat berbahaya. Tokoh saya itu mencari apa arti kemerdekaan. Mula-mula sebagai “keliaran”, lalu “kebablasan”, lalu dia mencari dan mencari terus apa arti kemerdekaan itu. Kalau saya sendiri sih, tentu tahu apa arti kemerdekaan. Tapi tokoh saya kan tidak tahu? Jadi, kehadiran tokoh itu tidak selalu mewakili pengarang. Setelah saya jelaskan begitu, mas Oyik bisa paham.

MAS Oyik adalah panggilan akrab untuk sastrawan (alm) Satyagraha Hoerip. Adapun (alm) Iwan Simatupang adalah sastrawan yang karya-karya novelnya dinilai absurd oleh beberapa kritikus sastra. Seperti, Kering, Ziarah, Merahnya Merah, Koong, Tegak Lurus dengan Langit. Banyak kritikus, antara lain Goenawan Mohamad, membandingkan Putu dengan Iwan. Ia menulis, “Seperti halnya cerita-cerita pendek Putu, fiksi Iwan juga memeriahkan yang mustahil dan ganjil sebagai bagian sehari-hari dari alam dan manusia, di mana (khususnya bila kita ingat novel pendeknya, Koong), pergantian antara gila dan geli acap kali tidak menempuh garis batas yang tegas — sebuah pergantian nang mungkin hanya sekedar satu plesetan kosmis. Tetapi karya-karya Iwan seperti Merahnya Merah atau Ziarah atau Kering adalah cerita-cerita dengan hero yang gagah, tunggal, final. Dengan kata lain, sebuah kehadiran yang tak pernah terganggu-gugat, bahkan suatu tauladan stabilitas. Fiksi Iwan adalah ‘hero sentris’, fiksi Putu Wijaya nyaris tidak memilih satu sentrum manapun.”

Anda menulis sejak duduk di sekolah menengah?

           Sebenarnya sejak masih di SD saya sudah menulis. Saya selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran mengarang. Saya senang kalau disuruh oleh guru bercerita di depan kelas. Suatu hari saya bercerita sangat lancar dan kawan-kawan sekelas tertawa terbahak-bahak. Saya bercerita terus sampai bel berbunyi, tidak menyadari bahwa jam pelajaran sudah usai. Secara serius saya menulis ketika duduk di kelas III SMP. Cerita pendek saya yang pertama dimuat di harian Suluh Indonesia edisi Denpasar, dan kemudian di rubrik remaja majalah Mimbar Indonesia (Jakarta) yang bernama Fajar Menyingsing.

           Sejak itu saya merasa bisa mereka-reka, dan ingin menulis buku, menjadi pengarang. Tapi ketika itu masih sangat sulit untuk menyusun kata-kata. Suka macet. Kemudian saya bertemu dengan Kirdjomuljo. Pengarang senior dari Yogya ini sering ke Bali. Ketika itu saya bersekolah di Singaraja. Malah dia juga diminta oleh kepala sekolah saya, Ibu Gedong, untuk melatih anak-anak bermain drama. Saya main dalam lakon Badak karya Anton Chekov terjemahan Nasjah Djamin. Ketika mempersiapkan pementasan, Kirdjo berkenalan dengan teman saya, anak orang kaya. Dia bilang, “Kalau saya jadi temanmu, punya mobil, punya mesin tulis, saya akan berjuang.”

           Saya heran, apa hubungan atara mengarang dan berjuang? Mengarang kok berjuang? Mengapa mengarang harus berjuang? Ketika itu yang disebut “berjuang” kan perang atau revolusi. Ternyata maksud Kirdjo, kalau sudah punya mesin tulis dan sebagainya, tidak dengan sendirinya kita bisa menjadi pengarang. “Kau harus berjuang untuk menjadi pengarang.” Kata-kata Kirdjo itu benar-benar menusuk saya. Sejak itu, konsep “mengarang itu berjuang” benar-benar merasuk, mempengaruhi jiwa saya. Jadi, kreativitas itu harus diciptakan, kita harus bekerja keras untuk melahirkannya, bukan sekedar menunggu ilham.

           Jadi, saya harus bekerja keras. Menubruk kesempatan apa pun. Ada sayembara mengarang, saya tubruk. Ada kesempatan menulis di majalah atau koran, saya tubruk. Saya benar-benar bekerja keras untuk menulis buku. Kalau perlu saya bacakan supaya orang mau membacanya pula. Tapi, saya tidak pernah berhasil menulis puisi. Puisi saya tidak pernah dimuat. Ketika itu Umbu Landu Paranggi sudah berkibar sebagai penyair. Saya menulis surat perkenalan kepadanya, tapi tidak dibalas. Kurang ajar! Sekarang dia di Bali, tapi tidak tahu di mana. Misterius sekali dia itu.           Minat saya mengarang barangkali karena ketemu dengan Kirdjo itu. Tapi, sebelumnya saya memang suka membaca. Ayah saya punya koleksi buku yang lumayan. Saya membaca komik Mahabharata dan Ramayana-nya RA Kosasih, cerita Winnetouw-nya Karl May. Saya juga membaca koleksi buku abang saya. Yang paling mngesan ialah Komedi Manusia-nya William Saroyan, juga Dongeng-dongeng Anderson terjemahan Darmawidjaja. Sampai sekarang sudah sekitar 500 cerita pendek saya tulis. Buku sekitar 30-an, terdiri dari novel dan kumpulan cerita pendek. Yang akan terbit kumpulan esei yang belum dipublikasikan.

           Penyair Sapardi Djoko Damono tertarik pada kumpulan esei itu, karena katanya, merupakan “gabungan” antara puisi, cerita pendek dan esei. Judulnya Zat, segera akan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus. Juga akan terbit kumpulan cerita pendek saya, Yel, judulnya sama dengan naskah drama saya. Naskah drama saya yang berjudul Zat juga ada. Skenario film sekitar 15, tapi yang jadi film hanya beberapa. Skenario sinetron banyak. Ada Pas sebanyak 52 seri, ada None 39 biji, Warung Tegal 20 buah, yang terakhir Jari-jari Cinta, baru selesai tiga seri. Semuanya hampir 100 naskah.

Banyak orang berpendapat sastra kita lesu. Bagaimana pendapat Anda?

           Tidak lesu, ah. Pengarang menulis terus, buku terbit terus. Cuma publlikasinya yang kurang, sering kali buku-buku sastra tidak terpampang di toko-toko buku. Selain itu, masyarakat kita lebih banyak memperhatikan hal-hal lain, seperti sinetron atau film di televisi, meski sejak dulu pun perhatian orang pada sastra memang sedikit. Apalagi sekarang perhatian masyarakat sudah jauh lebih kompleks. Dan banyak pengarang yang tidak menganggap mengarang sebagai pekerjaan. Setelah kawin dan punya pekerjaan lain, mereka tidak mengarang lagi. Karena mereka menganggap, mengarang itu tidak bisa menjadi sumber penghasilan.

           Meskipun buku laris, pengarang masih sulit hidup karena pajaknya sangat besar, 15%. Sementara royaltinya cuma 10%. Ini kan cilaka! Karya sastra yang mencerdaskan bangsa dan memperhalus budi pekerti mestinya dipajak 0 prosen. Celakanya, karena pajak yang sangat besar itu, penerbit terpaksa menekan pengarang. Juga karena tidak ada jaminan bahwa buku akan laku. Karya sastra mestinya mendapat subsidi berupa keringanan pajak atau harga kertas untuk buku-buku sastra diturunkan. Atau buku-buku itu diborong oleh pemerintah. Dan jangan lupa: pelajaran sastra di sekolah harus digalakkan.

Di lain pihak, mengapa majalah sastra sulit hidup?

           Tidak hanya di Indonesia, di mana-mana majalah sastra itu sulit hidup. Kesepian, miskin, dan honorariumnya paling kecil. Menurut saya, sastra itu janganlah dikapling-kapling. Sastra harus “bergerilya” masuk ke semua sektor kehidupan. Sebenarnya kesenian kita itu kan menyatu dengan kehidupan rakyat. Hanya kemudian karena pengaruh cara berpikir orang Barat, kita lantas mengkapling sastra, lalu ada majalah sastra. Mula-mula ketika dinobatkan, sastra menjadi “raja” di kapling itu, tapi lama kelamaan tidak berharga karena tidak ada kaitannya dengan kehidupan.

           Karya sastra tidak harus dimuat di majalah sastra. Majalah sastra boleh saja ada, tapi kalau hidupnya Senin-Kemis ya jangan disesali. Lebih baik sastra muncul di berbagai media massa seperti sekarang. Di harian Pos Kota pun saya pernah menulis cerita pendek. Dan di media massa seperti itu belum tentu mutu cerita pendeknya jelek. Malah yang di majalah sastra ada cerita pendek yang mutunya lebih buruk. Jadi, sastra mustri “menyerbu” dan “bergerilnya” di mana-mana. Tidak harus terpuruk di sebuah kapling yang namanya majalah sastra.

Anda hidup dari mengarang. Bagaimana caranya?

           Dulu saya mendapat nafkah ketika bekerja di TEMPO, sehingga bisa bebas mengarang. Saya tidak memberi beban apa-apa kepada karangan saya. Lain halnya kalau semata-mata hanya mengarang sebagai satu-satunya sumber kehidupan. Itu mungkin bisa. Dengan begitu saya memberi dua tugas kepada karangan saya: memberi hidup kepada saya dan memberi kehidupan kepada karangan itu sendiri. Dengan bekerja keras dan disiplin, saya kira kita bisa hidup dari mengarang. Meskipun hidup sederhana. Tapi, kalau kita menginginkan hidup yang lebih enak lagi, ya harus bekerja lebih keras lagi.

           Artinya, kita harus menganggap mengarang sebagai pekerjaan. Seminggu dua kali menulis cerita pendek, saya kira bisa menghidupi pengarang. Apalagi kalau kita juga menulis berbagai skenario sinetron atau film. Mengerjakan film satu kali setahun kan sama dengan bekerja di TEMPO selama setahun. Jadi klop. Apalagi sinetron kan merupakan kelipatan sekian kali dari film. Nah, di tengah kesibukan bekerja kreatif seperti itu kita harus selalu “terjaga”. Tapi, dalam keadaan kepepet dan terpaksa pun, kita harus waspada dengan mutu.

           Jadi, saya tidak pernah merasa hina menulis di majalah pop seperti Aktuil yang terbit tahun 1970-an di Bandung, atau di harian Pos Kota atau Sinar Pagi (keduanya terbit di Jakarta), seperti halnya saya juga menulis di majalah wanita seperti Femina atau majalah sastra Horison. Dan gaya saya tetap saja terjaga. Masih seperti dulu ketika saya menulis untuk TEMPO, bisa dibaca oleh semua orang, dari menteri sampai tukang becak, “enak dibaca dan perlu”. Semua orang bisa mengerti, bisa paham. Seperti motto majalah Minggu Pagi yang terbit tahun 1950-an di Yogya, “enteng berisi.” Nah. Tapi, justru itulah yang sulit.

Anda lahir sebagai orang Bali, tapi tampil sebagai pengarang garda depan dengan karya-karya absurd. Jangan-jangan ada yang bilang Anda bukan orang Bali lagi karena sudah kehilangan akar radisi.

       

         Banyak orang tak punya referensi tentang Bali sehingga yang dilihatnya hanyalah Bali yang fisik saja. Tapi, kalau Anda baca karya-karya saya, dan Anda tahu tentang Bali, ya itulah Bali. Orang Bali yang membaca tulisan saya bisa merinding. Ada naskah drama saya, Awas (1979). Suatu hari saya ketemu orang Bali di Yogya yang sempat menyaksikan drama itu. Ia merinding karena imaji-imajinya yang khas Bali. Beberapa waktu lalu ketika saya bawa drama ke Brunei Darussalam, ada orang Bali yang nonton merasa seperti mendengar kidung Bali, gending Bali. Padahal drama itu abstrak dan modern sekali. Dan secara fisik atau formal tidak ada “Bali”-nya.

PUTU Wijaya lahir dan besar di Bali. Dan ternyata tetap berakar di sana. Imajinasinya yang liar, yang suka aneh-aneh seperti tampak pada karya-karyanya, agaknya tak lepas dari “roh Bali” yang oleh sebagian orang dinilai absurd. Gending, kidung, tarian, atau kehidupan yang menyatu dengan kesenian, barangkali juga absurditas itu sendiri. Seperti lukisan tradisional Bali yang tanpa fokus, yang “liar” dan campur aduk: ada upacara ngaben, pemujaan di pura, skuter lewat, anak-anak bermain, atau adegan humor lainnya.

           Sastrawan berdarah bangsawan itu bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Ia lahir di Puri Anom, Saren, Kangin, Tabanan, Bali, pada 11 April 1944. Ia anak ketiga, bungsu, dari pasangan I Gusti Ngurah Raka (wafat 1970) dan Mekel Erwati (wafat 1992). Resminya ia bergelar sarjana hukum dari Jurusan Perdata Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1969, juga pernah kuliah di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film) selama tiga tahun, dan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) selama setahun, semuanya di Yogyakarta. Menulis sejak masih duduk di bangku SMP, cerita pendeknya yang pertama berjudul Etsa, dimuat di harian Suluh Indonesia edisi Denpasar.

           Pertama kali ia bermain drama ketika masih duduk di bangku SMA dalam lakon Badak terjemahan Nasjah djamin dari karya dramawan Rusia kaliber dunia, Anton P. Chekov, disutradarai oleh penyair Kirdjomuljo. Sebelum bergabung dengan Bengkel Teater pimpinan WS Rendra (Yogya, 1967-69), ia sudah mendirikan kelompok teater sendiri. Belakangan ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Teater Kecil-nya Arifin C. Noer. Sempat bermain sekali dengan Terater Populer-nya Teguh Karya, selanjutnya ia mendirikan grup sendiri, Teater Mandiri (1971). Sejak itu, setiap tahun Teater Mandiri mementaskan naskah-naskah karya Putu di Taman Ismail Marzuki dan Gedung Kesenian Jakarta.

           Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres dan TEMPO, kemudian pemimpin redaksi majalah Zaman, pengalaman kerja keseniannya di luar negeri sangat beragam. Ia pernah tujuh bulan bekerja di lingkungan masyarakat komunal petani di Itoen (Kyoto, Jepang) yang menganggap kerja sebagai ibadah, juga sempat mengikuti International Writing Program selama delapan bulan di Iowa, Amerika Serikat, kemudian bermain drama di Festival Teater Nancy, Prancis. Belakangan ia kembali ke AS sebagai dosen dan sutradara tamu atas undangan Yayasan Fulbright (1985-88).

                    Ketika itu ia mementaskan naskah Gerrr di Madison, Connecticut, dan Aum di LaMaMa, New York. Ia juga membawa Yell bermain keliling AS dalam rangka program KIAS (Kebudayaan Indonesia – Amerika Serikat, 1991). Tahun berikutnya ia mendapat professional fellowship dari The Japan Foundation untuk menulis novel sekaligus sebagai dosen tamu di Center for Southeast Asian Studies, Universitas Kyoto, Jepang. Prestasinya di dunia film pun cukup meyakinkan. Ia menyutradarai tiga film (Cas-Cis-Cus, Zig-Zag, Plong), tiga sinetrion serial (Pas, None, Warteg), dan menggondol tiga Piala Citra untuk skenario film layar lebar (Perawan Desa, Kembang Kertas, Ramadhan dan Ramona).

                    Selain mendapat SEA Write Award (Bangkok, 1980), ia juga mendapat Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1991). Beberapa karyanya (cerita pendek, novel, drama) telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, antara lain, Arab, Belanda, Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, Thai, Inggris. Menurut penyair dan budayawan Goenawan Mohamad, cerita Putu bisa memikat karena pembaca “terpaksa” ingin menguntitnya terus, tak tahu ke mana tiba-tiba ia akan berbelok. Atau berkelit ke arah yang tidak terduga.

                    Selanjutnya mantan pemimpin redaksi Majalah Berita Mingguan TEMPO itu menulis dalam kata pengantarnya untuk kumpulan cerita pendek Blok: “Ia tak hanya berkecamuk di dataran dunia di luar kesadaran. Ini terutama nampak setelah Bila Malam Bertambah Malam, sebuah drama tetapi juga sebuah novel pendek tentang sengketa keluarga, dan dalam arti batas tertentu juga Pabrik, sebuah cerita dengan beberapa tokoh dalam satu latar sosial yang kecil. Pada perkembangan berikutnya, fiksi Putu Wijaya – dan ini dengan kuat mulai nampak dalam Telegram, sebuah novel – adalah catatan kesadaran yang berdenyut, berpusar dan menendang, seakan-akan tanpa awal dan tanpa akhir. Pada gilirannya, yang hadir adalah multiplisitas. Mengasyikkan: bersama dan di dalam sang cerita kita pun bergerak, naik turun, di pelbagai lipatan, tak putus-putusnya.”                     

         

                Blok adalah kumpulan 57 cerita pendek, tebal 520 halaman, terbitan PT Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994. Buku ini cukup istimewa, dikumpulkan oleh Dewi Pramunawati, sang isteri, untuk memperingati ulangtahun ke-50 sang suami. Blok juga sebagai tanda syukur dalam menunggu kehadiran bayi pertama setelah mereka menikah selama sembilan tahun. Sayang, yang ditunggu-tunggu keguguran pada hari Lebaran 1994. Isteri Putu Wijaya yang pertama (kemudian berpisah) ialah artis Renny Djajusman, dengan seorang putri yang kini sudah dewasa, Yuka Mandiri. Kumpulan cerita pendek ini merupakan retrospeksi dari sekitar 500 cerita pendek yang berserakan di berbagai media massa. Ada yang ditulis ketika Putu baru saja pindah ke Jakarta (Ini Sebuah Surat, 1969), ketika masih bujangan dan bekerja di TEMPO (Budak), ketika berada di AS (Keris), ketika di Kyoto (RRT), Juga ada yang belum dipublikasikan (Babu, 1994).

                    Selain Blok, kumpulan cerita pendek Putu yang lain, Es, Bom, Gres, Protes. Putu juga menulis beberapa novel, antara lain, Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Stasion, Keok, Sobat, MS, Ratu, Tak Cukup Sedih, Tiba-tiba Malam, Lho, Pol, Perang, Nyali, Merdeka. Novel Lho berangkat dari “sensasi pikiran” yang timbul secara mendadak untuk membunuh. Dengan ekstrim Putu menarik berbagai pikiran tokoh-tokohnya hingga kewarasan dan kegilaan menyatu. Dan ketika sang tokoh sadar dan berdamai dengan kenyataan kehidupan, ia menemukan dirinya terbaring di sebuah ranjang sebuah rumah sakit jiwa: “Lho”.

                    “Membaca cerita pendek Putu – yang diperluas kandungan setiap kata-katanya – tak ubahnya membaca roman yang panjang (dwilogi, trilogi, atau tetralogi), karena cerita-cerita pendek itu seperti halnya perjalanan kehidupan manusia,” tulis kritikus sastra H.B. Jassin untuk kumpulan cerita pendek Blok. “Bukan saja dalam abad tempat ia hidup, akan tetapi juga dalam hidupnya di masa silam, sementara ia mengejar abad yang berlari ke masa depan yang tiada bertepi dan tiada berakhir,” lanjutnya.

                    Setelah membaca cerita pendek Putu, misalnya yang dikunmpulkan dalam Protes, kesan yang umumnya timbul ialah, karya-karya itu kaya imajinasi dan simbol, sugestif dan dinamis. Kerap kali seperti protes terhadap bentuk pengucapan literer yang konvensional. Dalam cerita-cerita pendek itu, Putu sesekali memang melontarkan kritik sosial, tapi tetap konsisten dengan konsep “teror mental”-nya yang menggemaskan. Protes semakin mempertegas sosok Putu sebagai seniman garda depan yang serba bisa, enerjik dan produktif. 

                   Tapi, apa kaitan cerita pendek dengan “teror”? Dalam sebuah eseinya berjuduil Cepen, Putu Wijaya menulis: Sebuah cerita pendek bagaikan mimpi baik atau buruk. Tidak terlalu penting urutan atau jalinannya, karena kadang-kadang ada, kadang kala tidak. Yang utama, pekabaran yang dibawanya, daya pukau, daya magis, tamsil, ibarat, tikaman jiwa, firasat dan berbagai efek yang diberondong menyerang siapa yang mengalami mimpi. Ia bisa gamblang, jelas, mendetil dan persis melukiskan apa yang akan terjadi, tetapi ia juga bisa buram sama sekali sebagai ramalan yang memerlukan tafsir. Cerita pendek adalah teror mental kepada manusia.  Bacalah bagaimana Putu Wijaya membuka ceritanya. Misalnya, ketika ia memulai bercerita dalam Merdeka, dalam kumpulan cerita pendeknya Protes. Ia menulis pergulatan batin tokohnya dengan gamblang dan menarik:

                 Di dalam penjara, Bandot bermimpi tentang kebebasan. Kemerdekaan, kenikmatan, keleluasaan, keadilan yang lebih baik, kebahagiaan, kepuasan, dan pembalasan dendam. Ia telah melakukan serentetan kejahatan yang menyebabkan alat negara menyeretnya ke meja hijau dan kemudian palu hakim menendangnya ke bilik jeruji besi. Tetapi, setiap malam ia bukannya merasa telah membayar dosanya, ia justru menganggap dibusukkan secara sewenang-wenang. Jiwa raganya berontak, berang, dan semakin mendendam…..  *** 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.