Perawan yang Menangis itu Bernama Toba

/ Budiman S. Hartoyo

SAHABAT saya, Martin Alaeida, adalah anak Tanjung Balai, Sumatera Utara. Beberapa tahun belakangan ia memantapkan diri sebagai sastrawan. Cerita pendek dan novelnya enak dibaca, deskriptif. Bacalah, misalnya, salah satu phrase novel terbarunya yang berlatar belakang budaya Batak, Jamangilak Tak Pernah Menangis (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004). Dengan cukup imajinatif ia melukiskan panorama sosiologis dan ekologis tentang manusia dan alam di sekitar Danau Toba:

             “Dengan kaki tak beralas, keesokan harinya dia melanjutkan perjalanan manakala bintang terakhir redup dari pandangan. Di hadapannya menantang belantara dengan pohon aloban, yang besar batangnya terkadang melebihi dua-tiga depa. Dia berjalan memotong kompas ke utara, terus menuju pinggang sebelah barat Danau Toba. Sesampai di perkampungan kecil di tepi cekungan alam raksasa yang menampung air yang tak terhingga itu, Jamangilak terpana menatap Pusuk Buhit, gunung yang menjulang tinggi jauh di ujung danau.
         
          Kata orang-orang tua, begitu tingginya gunung itu menjulang ke langit hingga mudahlah bagi Tuhan untuk menimang dan meluncurkan anak manusia Batak yang pertama ke pundak gunung itu. Dari situlah satu budaya yang dipanggul orang-orang yang berkemauan keras berkembang biak mengelilingi danau yang perawan di kakinya. Jamangilak, yang datang jauh dari selatan danau, bersikap dingin terhadap mitologi itu. Tetapi, dia bukannya tidak menghormatinya…”

            Begitulah, agaknya, anak manusia Batak pertama turun ke bumi. Dan, barangkali pula, salah seorang di antara anak mudanya, suatu hari di zaman dahulu kala, memancing seekor ikan emas yang indah, merah kekuning-kuningan – yang menjelma menjadi putri nan elok menawan. Singkat cerita, menikahlah mereka dan menghasilkan seorang anak lelaki yang rakus. Gara-gara dimaki sang ayah, anak ikan dan emaknya raib ditelan bumi, kembali menjadi ikan.

          Alkisah, di tanah bekas pijakan mereka menyemburlah air yang membuncang deras, sementara dua anak-beranak itu menangis sepanjang zaman. Mata air dan air mata itulah, konon, cikal bakal Danau Toba. Cuma di danau mana si anak Batak tadi memancing, si empunya cerita tidak mengungkapkannya…
 
          Jamangilak barangkali memang tidak pernah menangis, tapi Danau Toba masih menangis hingga kini. Danau Toba bukanlah mitologi, juga bukan obyek dalam sebuah novel. Tapi, sebuah realitas yang mengherankan sekaligus menyedihkan. Betapa tidak! Jika Bali merupakan destinasi turisme nomor wahid di sebelah timur, seharusnya Danau Toba bisa jadi andalan tujuan wisata di sebelah barat. Tapi, cawan raksasa berkelimpahan air berkilau-kilauan itu seakan terlupakan dari peta pariwisata.
 
          Padahal, danau yang terbentuk 80.000 tahun silam dari letusan gunung berapi itu, adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan paling dalam di dunia. Luasnya antara 1.265 – 1.707 km2, kedalamannya antara 150 – 450 meter. Berada 906 m di atas permukaan laut, suhu alam di sekitarnya sekitar 20 derajat Celcius hingga sejuk sepanjang tahun. Gunung, bukit, lembah, lereng, jurang curam, belantara cemara dan rerumputan, terhampar menghijau mengelilinginya.
 
          Di tengahnya “berlayar” pulau Samosir yang luas kelilingnya 90 km – dapat dikelilingi dengan perahu motor selama delapan jam. Air terjun mengalir deras dari beberapa bukit hijau. Dari kejauhan tampak bak benang memutih, mengiris tubuh bukit. Di Parapat, juga di beberapa tempat di tengah permukiman penduduk desa di Samosir, berserakan sejumlah homestay, hotel berbintang, restauran, kafé, internet cafe, juga perpustakaan sederhana.

          Berwisata ke Danau Toba cukup menyenangkan. Baik lewat Medan hingga Parapat, maupun Tebingtinggi dan Pematangsiantar, atau melalui desa-desa di Pematangpurba, Karo, sampai Brastagi. Pemandu wisata lazim menggiring turis mampir ke Simarjarunjung, lalu ke rumah bolon Pematangpurba, kemudian menikmati air terjun Si Piso-Piso di Tongging, Karo, diteruskan ke pasar Brastagi.

          Cuma sayang, sepanjang yang saya pelototi di beberapa clippings kiriman seorang kawan dari Medan, pengelolaan Danau Toba ternyata kurang memadai. Tak ayal, sudah enam tahun belakangan ini jumlah turis turun drastis. Menurut Bupati Tapanuli Utara, Torang Lumban Tobing, selama 1999 hingga 2002, jumlah turis asing terus menurun dari 1.185 menjadi 450 orang pertahun. Alias tinggal sepertiganya. “Turis malas datang karena jauhnya jarak tempuh melalui darat dari Medan,” katanya. Sementara menurut Cahyo Pramono, General Manager Hotel Niagara, Parapat, mereka hanya menginap semalam saja.

          Seorang teman bilang, sarana publik dan fasilitas di Danau Toba, khususnya di tourist spots, jauh di bawah standar pemeliharaan. Misalnya, lantai kayu di dermaga perahu motor menjelang Ambarita Village ada yang mulai lapuk. Deretan warung-warung suvenir berdinding kayu yang membentuk lorong tidak mencerminkan arsitektur dan ragam hias Batak, sementara makam Raja Sidabutar di Tomok, sudah seperempat abad tidak dibenahi. Belum lagi sebaran sampah dan rerumputan yang tak terawat di sekitar air terjun Si Piso-Piso di Tongging, sebelah utara Danau Toba. Bahkan konon, kamar kecil pun tak ada!
 
          Jarak tempuh jalan darat dari Medan ke Danau Toba – enam jam dengan mobil, melalui jalan berliku berkelok-kelok – memang melelahkan. Untunglah, 25 Februari lalu, Bandara Silangit di sebelah selatan Danau Toba (lima kilometer dari Kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara) sudah selesai dibangun dengan biaya Rp34 miliar. Landasan pacunya 1.850 meter (panjang) dan 30 meter (lebar) hingga dapat didarati pesawat CN 235 bahkan pesawat berbadan lebar jenis F-28.
 
          Jika jarak penerbangan Polonia-Silangit yang 157 km bisa ditempuh sekitar 35 menit dengan CN 235, ditambah 20 menit dari Bandara Silangit ke Muara dengan mobil, praktis kurang satu jam para turis sudah bisa menikmati keindahan panorama Danau Toba.

          Tentu bukan hanya turisme yang akan berkembang. Dengan beroperasinya Bandara Silangit, otomatis ekspor hortikultura dan hasil pertanian lainnya, termasuk berjenis-jenis ikan, juga bakal melejit. Selama ini, para petani dan rakyat kecil lainnya di sekitar Danau Toba, tak berdaya untuk menembus pintu ekspor ke Singapura dan Malaysia, mengingat jauhnya jarak tempuh dari Tapanuli Utara melalui Bandara Polonia maupun Pelabuhan Belawan di Medan.

          Lalu di manakah kau, wahai anak manusia Batak yang sepanjang memori si Jamangilak konon “ditimang dan diturunkan Tuhan di pundak gunung-gunung tinggi” itu? Bah, turunlah ke lembah untuk berbenah!

***

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: