TENTANG BSH

BUDIMAN S. HARTOYO dikenal sebagai salah seorang di antara sedikit (mantan) wartawan senior Majalah Berita Mingguan TEMPO yang sampai berusia 68 tahun tetap konsisten sebagai jurnalis. Ia bahkan masih dipercaya sebagai penulis dan editor tamu majalah berita mingguan TEMPO. Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1938, BSH — demikian sahabat-sahabatnya sering menyebut dan memanggilnya — praktis selama hampir seperempat abad telah menghabiskan usianya di TEMPO. Dua kali menunaikan ibadah haji, yang pertama pada 1990, sekalian meliput ibadah haji Presiden (ketika itu) Soeharto sekeluarga – yang diturunkan untuk cover story di TEMPO, sebagai laporan paling lengkap dibanding semua laporan media massa terbitan Indonesia saat itu. Ia mulai bekerja di majalah mingguan yang didirikan oleh penyair Goenawan Mohamad dkk itu sejak 1972 (setahun setelah pertama kali TEMPO terbit) hingga majalah tersebut dibreidel pada 1995 oleh Menteri Penerangan (ketika itu) Harmoko – yang mengaku sebagai “wartawan sejati” — atas perintah Presiden (ketika itu) Soeharto. Sebelumnya, di Solo, ia pernah bekerja di mingguan Surakarta (kemudian ganti nama Warta Minggu), mingguan Patria, dwipekan Genta, penulis lepas mingguan Adil (Solo), Masa Kini (Yogyakarta). Sejak 1966 bekerja sebagai redaktur RRI Surakarta dan menjadi koresponden beberapa media terbitan Jakarta, termasuk Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI). Bersama sejumlah seniman Solo, ia merintis berdirinya Dewan Kesenian Surakarta yang diresmikan oleh Dr. Umar Kayam.Setelah TEMPO dibreidel, ia bekerja di majalah Amanah, harian Media Indonesia (tanpa menyebutkan nama dan identitasnya, karena dilarang oleh PWI, organisasi kaki tangan partai politik Golkar), majalah D&R (mula-mula bernama Detektif&Romantika, kemudian ganti nama Demokrasi & Reformasi), majalah Gamma, kontributor Jurnal Pantau — semuanya terbit di Jakarta. Dan sejak 2003 ia dipercaya sebagai Redaktur Eksekutif majalah dwipekan alKisah.Di awal “era reformasi” BSH sempat menjadi salah seorang deklarator organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (1995) dan pendiri PWI-Reformasi (1998). Dalam Kongres Nasional I PWI-Reformasi di Bandungan, Salatiga, Jawa Tengah, 22-24 Maret 2000 ia terpilih sebagai ketua umum pertama. Dalam Kongres Luar Biasa di Yogyakarta pada 2005, organisasi wartawan itu berubah nama menjadi Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI).

Dua featurenya, The Ballads of Aryanti Sitepu dan Empat Hari Menyusup di “Sarang Teroris” yang dimuat di Jurnal Pantau, dinilai sebagai feature investigasi yang ditulis dengan gaya jurnalisme literair. Selain sebagai wartawan – yang berusaha profesional, dan sangat concern pada penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta penulis jurnalisme literair yang langka — BSH juga dikenal sebagai penyair.

Beberapa puisinya sempat dimuat di beberapa majalah sastra terkemuka seperti Basis, Budaya (Yogyakarta), Gelanggang, Mimbar Indonesia, Sastra, Budaya Jaya, Horison (Jakarta). Kumpulan puisinya, Sebelum Tidur (1972) sudah tiga kali dicetak ulang. Ia juga sempat melakukan re-writing buku otobiografi pengusaha nasional Basyiruddin Rachman Motik, dan mengedit otobiografi (mantan) Dubes RI untuk Manila, Marsekal Madya (Purn) Sri Bimo Ariotedjo.

Sampai tahun 2006 ia masih menulis, termasuk menulis puisi. Dua buah puisinya, tentang tragedi tsunami yang melanda Aceh, dimuat di majalah sastra terkenal, Horison (Jakarta), Januari 2006. Kini ia sedang mempersiapkan sebuah kumpulan puisi dan sebuah kumpulan karangan terserak. Beberapa karyanya juga bisa dilihat di lima siutus web blog: http://bsh.blog.com/ (khusus puisi); http://budimanshartoyo.blog.com/ (jurnalisme dasar dan lanjut); http://budimanshartoyo.blogspot.com/ (masalah pers), https://budimanshartoyo.wordpress.com/ (kolom), http://budimanshartoyo.multiply.com/ (macam-macam).

***

12 comments so far

  1. dinasulaeman on

    Senang sekali berkenalan dgn Pak Budi, saya bisa banyak belajar dr tulisan2 Bapak.

  2. dinasulaeman on

    Saya link ya Pak, terimakasih:)

  3. Budiman S. Hartoyo on

    Ya, silakan. Mana oleh-oleh dari Teheran? Jadi pulang ke Ind?

  4. nirwan on

    Assalamualaikum.

    Maaf pak, saya akan langsung nyerocos.

    Saya teringat pernah masuk dalam sebuah pelatihan atas nama Jaringan Wartawan Pemantau Pemilu PWI Reformasi di Medan. Bapak salah satu pemateri. Kalimat yang berikut ini, “Biar Fakta Bicara”, tak saya dapatkan di kampus tapi dari Bapak. Saya berterimakasih untuk itu. Mudah-mudahan Bapak sehat selalu.

    Itu dulu.
    Terima kasih

    salam dari medan
    nirwan
    nirwansyahputra.wordpress.com

  5. nirwan on

    maaf, pak. sebelum bapak izinkan, saya sudah nge-link kemari.🙂

  6. Budiman S. Hartoyo on

    Bung Nirwan,
    Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Saya tentu saja senang Anda berkenan menengok blog saya. Saya sama sekali tidak mengira bisa ketemu Anda lagi. Apa kabar? PWI-Reformasi Korda Sumut sekarang dipegang oleh Yulhasni, redaktur senior di SUMUT POS, Medan. Nomor HPnya: 08126594341. Tengoklah blog saya yang lain. Sekarang kerja di mana?

  7. nirwan on

    Ass wr wb
    Wah, dipanggil “Bung”, saya jadi semangat, nih, Pak. Saya sekarang reporter di Harian Medanbisnis. Ya, saya memang sering kontak dgn Bang Yul. Kita biasa ketemu di Taman Budaya. Tapi kayaknya, saya sekarang sudah tidak di PWI Reformasi, melainkan di AJI Medan. Dan Bapak, kalau saya tidak salah di majalah Al-Kisah, ya.

    Saya sudah liat blog bapak yang lain, dan bakal jadi pengunjung tetap, nih. Boleh dong, bapak sekali-kali kasih nasehat ke blog saya di http://nirwansyahputra.wordpress.com.

    salam
    nirwan

  8. Budiman S. Hartoyo on

    Bung di MedanBisnis? Satu atap dong dengan Bung Rizanul? Dia sehat-sehat sajakah? Mudah-mudahan sakit jantungnya sudah sembuh. Amin. Salam ya?
    Bulan depan Yulhasni mau gelar Konperensi Kerja Daerah PWI-Reformasi Korda Sumut. Anda (bersama AJI) bisa kerja sama dengan PWI-Ref Korda Sumut. Saya kan juga salah seorang Deklarator AJI.
    Baik, nanti saya mampir ke blog Anda. Salam hangat buat kawan-kawan di Medan.

  9. rahadio on

    Assalam’mualaikum wr.wb maaf mas saya wis lama banget gak berbagi barito kepada njenengan, baa kaba jo carito kini? Dari sapaan saya ini Insya Allah udo lai takana jo ambo. Jujur ambo kecekan Mas BSH adalah guru dan pembuka inspirasi bagi saya. Matur nuwun jo tarimo kasih Wassalam’mualaikum wr.wb

  10. Budiman S. Hartoyo on

    Mas Dio, sulit bener kontak ke Anda. Bukan karena Anda sudah di Mentawai, tapi dua nomor hp Anda tidak aktif sama sekali. Bagaimana dengan Korda Sumbar? Harap segera Anda bangkitkan kembali Korda Sumbar. Anda masih lama di Mentawai? Kan Anda bisa membentuk Korcab di sana. Minta nomor hp Anda. Tks.

  11. Iroceerie on
  12. budimanshartoyo on

    Yth. Bung Jajalgpepiuik,
    KomentarAnda mana? Kenapa tidak masuk ya? Saya tunggu komentar Anda.
    Salam,
    BSH
    ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: