INUL YANG MENGGODA

/ Budiman S. Hartoyo

INUL bukan sekedar fenomena. Ia fenomena yang menggoda — di zaman yang katanya disebut reformasi ini.

Karir Inul meroket spektakuler gara-gara goyangnya menggusur segala goyang dangdut yang pernah ada di panggung dangdut Indonesia. Jadilah perempuan ndeso ini primadona yang menghibur rakyat kecil dan rakyat besar. Ia OKB alias “orang kaya baru” yang hartanya diperoleh dengan banting tulang: goyang pinggul dan pantat, peras keringat.

Ia menggoda kita karena segera saja goyangnya menimbulkan pro-kontra. Istilah ini harus dibaca dari belakang, karena yang terjadi yang kontra terlebih dahulu berteriak, barulah muncul yang pro.

Sampai di sini, sekedar kontra dan pro sebatas wacana, masihlah sesuai dengan zaman reformasi yang maknanya, antara lain, menegakkan demokrasi, menghargai kebebasan berpikir, berpendapat, dan bergoyang. Sejauh sesuatu itu tidak menyebabkan kerugian secara nyata pada masyarakat, sekedar kontra dan pro dalam wacana, memberikan toleransi adalah amanat demokrasi.

Tapi itulah, ada yang tidak tahan uji. Ada yang kemudian mendamprat Inul. Alasannya, Inul anggota organisasi Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI), dan arena konon banyak anggota persatuan yang tak setuju dengan goyangan yang disebut sebagai erotis itu, Inul dilarang menyanyikan lagu ciptaan anggota PMMI. Ini larangan dalam keluarga besar, jadi ini internal, yang di luar dilarang ambil bagian.

Tapi, keluarga mana yang melakukan teguran dibarengi konperensi pers? Ada rupanya yang mencampur adukkan antara rumah pribadi dan ruang publik, masalah internal dan persoalan masyarakat.

Ini fenomena lama, yang rasanya masih berlanjut hingga sekarang. Fenomena inilah antara lain penyebab korupsi, dan yang melakukannya, tak merasa bahwa ini melanggar hukum. Ketika seseorang mencampur adukkan antara uang pribadi dan uang perusahaan atau uang negara, ia berada di ambang pintu korupsi. Begitu uang perusahaan atau negara masuk kantung dan dibelanjakan sebagai uang pribadi, korupsi pun terjadilah.

Kembali ke soal Inul, mestinya dalam alam demokrasi ini kebebasan bergoyang adalah hak seorang penyanyi, sebagaimana hak setiap orang untuk menyatakan pendapat, menyatakan pikiran, menyatakan ekspresi. Dan itu tidak berarti bahwa goyang tersebut harus dipuji. Goyang itu mau dikritik atau dicerca habis-habisan, tak jadi soal.

Adapun jika ternyata panggung Inul dikerubuti banyak penonton, banyak tawaran kontrak datang, itu rezeki dia. Seperti juga kalau ada yang merasa kok pangung dia menjadi lebih sepi setelah Inul ngetop, itu tantangan untuk mengubah nasib: lebih bergoyanglah, lebih kreatiflah – meski sepinya panggung yang lain itu belum tentu gara-gara Inul.

Jadi, itu aturan mainnya: bersaing secara sehat, bukan main melarang ini dan itu. Pelarangan untuk sesuatu yang menjadi hak seseorang, berlawanan dengan semangat reformasi, dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Dan ini berbahaya, bisa menyebabkan dunia terbalik-balik. Atau dalam kata-kata Ranggawarsita, pujangga Jawa legendaris itu, menyebabkan “jaman edan”: yang harus dikritik tidak dikritik, yang harus dikenai hukuman tetap bebas, yang korup dijadikan pimpinan, yang jujur tergusur.

Inul memang menggoda kita. Dan di zaman kebebaan ini, ketika siapa pun tak takut-takut lagi mengkritik dan mencerca siapa pun, siapa sih yang tidak berani mencerca Inul? Yang tidak mudah, kita tetap berkepala sehat meski digoyang bor Inul. “Inul, aku tidak setuju dengan goyangmu, tapi kalau ada yang melarang kau bergoyang, aku akan berada di depan membelamu.” Ini adalah kata-kata mereka yang tetap berkepala sehat meski mungkin limbung juga gara-gara digoyang Inul.

Bahkan, ada yang lebih dari itu. Misalnya, Taufik Kiemas, suami presiden kita, penggede sebuah partai. Ia bukan saja tidak melarang, tidak mengkritik, malahan “menangkap” Inul. Apakah ini penangkapan sesaat atau penangkapan awal untuk tahun depan, ketika kampanye pemilu dimulai, itu soal lain.

Goyang Inul memang goyang menggoda. Tapi, kalau yang limbung yakin, bahwa goyang Inul bermutu rendah dan merasa sedih kok yang seperti itu yang menyedot penonton, biarlah penonton yang memutuskan sendiri: akan tetap bergoyang ria bersama Inul atau kabur mencari yang lain…

Inul, saudara-saudara, memang menggoda kita.

(TRUST, 7-14 Mei 2003).

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: