TANAH YANG DIJANJIKAN ITU

/ Budiman S. Hartoyo

(Media Indonesia Minggu, 19 Februari 1995)

Pemerintah membuka izin ziarah ke Yerusalem, kota suci bagi tiga agama: Yahudi, Nasrani, Islam. Apa pentingnya ziarah ke sana?

BULAN Ramadhan tahun ini rupanya benar-benar membawa rahmat bagi kaum beragama di Indonesia. Kepada Komisi IX DPR-RI Senin malam lalu (13 Februari 1995), Menteri Agama Tarmizi Thaher menyatakan pemerintah tidak berkeberatan atas perjalanan ziarah ke Yerusalem – kaum muslimin ke Masjidil Aqsha, kaum Nasrani ke Bethlehem – meski kawasan itu dalam kekuasaan Israel yang tak ada hubungan diplomatik dengan RI.

Soal itu muncul setelah Tengku Djamaluddin Waly (FPP) mengemukakan, bahwa banyaknya umat yang berziarah ke sana beberapa tahun belakangan ini sudah merupakan “rahasia umum”. Setelah cukup lama paspor RI dilarang digunakan untuk masuk ke Israel, ada saja akal orang berziarah yaitu melalui Amman, ibukota Yordania, setelah transit di Singapura untuk mendapatkan visa masuk ke negeri Yahudi itu.

Tempo hari tanda-tanda pembukaan pintu ziarah itu sudah tampak meski samar-samar. Sikap pemerintah tidak terlalu tegas, misalnya, ketika tiga tokoh Islam – K.H. Abdurrachman Wahid, Habib Chirzin dan Djohan Effendy – ketahuan telah berkunjung ke Israel. Pemerintah mungkin belum akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel, tapi bukankah Palestina sendiri sudah berdamai dengan musuh bebuyutannya itu?

Kota purba Yerusalem dibangun oleh bangsa Jebus, salah satu rumpun bangsa Kanaan, sekitar 4.000 tahun SM yang silam. Pada sekitar 1.000 tahun SM, tampillah Nabi Daud AS sebagai raja di raja di sana. Belakangan anaknya, Nabi Sulaiman AS, memerintah di sana dan menjadikannya sebagai kota suci yang tak terhapuskan dari sejarah. Dialah yang mendirikan tempat ibadah yang disebut Bayt Allah alias “Rumah Tuhan”.

“Rumah Tuhan” itu berdiri di atas batu karang granit yang oleh orang Arab disebut Shakhrah as-Sulaimaniyyah. Di sanalah pula Nabi Ibrahim AS “menyembelih” anaknya, Nabi Ismail AS. Di bawah karang itu ada mihrab, tempat para nabi seperti Daud, Sulaiman, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, nerkhalwat dan bersembahyang. Dari shakhrah itu pula Rasulullah Muhammad SAW melakukan mi’raj ke langit.

Pada 638 Masehi ketika membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Romawi, Khalifah Umar ibn Khatthab sempat mencari shakhrah yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW – yang beberapa waktu sebelumnya pernah menjadikannya sebagai pangkalan ketika melakukan m’raj ke langit. Ternyata batu karang itu dijadikan tempat pembuangan sampah oleh orang Romawi. Maka Umar pun lantas membersihkannya dengan tangannya sendiri, kemudian membangun sebuah masjid di di depannya, yang belakangan disebut Masjid Umar. Kira-kira 40 tahun kjemudian, Khalifah Abdul Malik bin Marwan membangun sebuah masjid raya di atas shakhrah tersebut – yang kemudian dikenal sebagai Masjidil Aqsha atau Baytul Maqdis.

Sejak berabad-abad, Yerusalem dikenal sebagai kota suci bagi tiga agama besar yang juga disebut agama samawi atau agama “dari langit”: Yahudi, Nasrani, Islam – yang menurut Al-Quran berasal dari satu sumber, yaitu millat (ajaran) Nabi Ibrahim AS. Di kota purba — yang selama berabad-abad diperebutkan hingga sekarang itu – setiap pemeluk agama punya wilayah masing-masing: wilayah Yahudi, wilayah Nasrani, wilayah Islam, dan satu lagi wilayah Nasrani Ortodoks yang berasal dari Armenia dan Ukraina.

Yerusalem, atau Yerushalayim bagi lidah Yahudi – yang kini menjadi ibukota Republik Israel – terdiri dari kota tua yang sarat dengan peninggalan keagamaan, dan “kota baru” yang menjadi pusat pemerintahan. Adapun Bethlehem, atau Bayt al-Lahm untuk lidah Arab (“rumah daging/kambing”), tempat Nabi Isa AS atau Yesus lahir – terletak sekitar tujuh kilometer sebelah selatan Yerusalem.

Bagi kaum Nasrani, berziarah ke palungan bekas tempat lahir Yesus di Bethlehem di Bukit Yudea maupun ke beberapa gereja tua di Yerusalem, sesungguhnya bukan merupakan ajaran keagamaan, melainkan lebih merupakan turisme. Kaum Katolik, misalnya, lebih lazim mengunjungi tempat-tempat “penampakan” Perawan Suci Maria di Lourdes, Prancis, ataupun di Sendangsono, Klaten, Jawa Tengah.

Meski begitu, ziarah yang kabarnya baru muncul lima tahunan belakangan itu, 1990, tentu saja tidak mengurangi nilai atau gairah religiusnya. Di sektor Nasrani, misalnya, banyak umat Kristiani yang dengan berlutut berdoa dengan khusyuk di sebuah makam di Gereja Jirad Suci, yang mereka yakini sebagai makam Yesus.

Sementara itu kerinduan kaum Yahudi kembali ke “tanah yang dijanjikan” oleh Allah sungguh tak terperikan. Memang tidak ada ajaran Yahudi yang menganjurkan untuk menziarahi jejak kenabian Nabi Musa AS – yang malangnya sudah diobrak-abrik oleh para penjarah sejak berabad-abad silam, dan yang tertinggal hanyalah sebidang tembok yang disebut “Tembok Ratapan.” Di sanalah kaum Yahudi tersedu-sedu meratapi reruntuhan “nikmat kemuliaan” Bani Israel di antara bangsa-bangsa lain di zaman purba sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran.

Bagi kaum Muslimin, tempat ziarah yang mereka tuju ialah Masjidil Aqsha yang juga disebut Baytul Maqaddas Baytul Maqdis alias Al-Quds. Kerinduan untuk berziarah ke sana memang bukan sekedar pelesir mengisi hari libur, melainkan memang merupakan suruhan agam. Bukan saja masjid tua itu punya nilai sejarah yang tinggi, tingkat keutamaannya juga disebut dalam dua buah hadits yang sangat terkenal.

Masjidil Aqsha bagi kaum Muslimin merupakan masjid utama ketiga setelah Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah dan Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah. Untuk ketiga masjid tersebut, Rasulullah SAW mengimbau umatnya agar memprioritaskan menziarahinya meskipun harus bersusah-payah. Ziarah, bagi kaum Muslimin, tak lepas dari ibadah shalat. Betapa tinggi nilai spiritual dalam shalat di ketiga masjid tersebut diajarkan secara simbolik.

Sabda Rasulullah SAW, “Shalat satu kali di Masjidil Haram bernilai 100.000 kali shalat; shalat di Masjid Nabawi bernilai 10.000 shalat; shalat di Masjidil Aqsha bernilai 1.000 shalat.” Itulah sebabnya, setelah berkali-kali (dan berdesak-desakan) shalat di Masjidil Haram, jemaah haji memerlukan berkunjung ke Madinah untuk shalat di Masjid Nabawi, sekalian menziarahi makam Rasulullah SAW di kompleks masjid tersebut – tapi diharamkan memuja dan memohon sesuatu kepadanya. Bahkan sangat dianjurkan untuk menunaikan shalat arba’in (shalat 40 waktu, delapan hari kali lima waktu shalat) di Masjid Nabawi.

Banyak jemaah haji — yang telah merasakan kenikmatan spiritual dalam beribadah — selalu saja ingin kembali lagi ke Tanah Suci. Bukan semata-mata merindukan suasana khusyuk yang pernah mereka alami dan rasakan, melainkan juga mendambakan besarnya pahala jika sempat menunaikan shalat di ketiga masjid tersebut, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW. Kebetulan kini pintu menuju ke Masjidil Aqsha juga telah dibuka oleh pemerintah. Tentu saja jika secara spiritual sudah mantap, dana cukup, sementara jalannya pun aman.

***

7 comments so far

  1. qalbusalim on

    Salam kenal
    mohon bimbingan saya baru jadi blogger

  2. Budiman S. Hartoyo on

    Ass.Wr.Wb.,
    Bung Qolbus Salim tinggal di mana? Beberapa menit yang lalu saya sudah menjawab email Anda. Saya juga blogger baru, baru belajar mengelola blog. Lihat saja, lay outnya masih sangat sederhana. Dan belum ada BUKU TAMU. Sudah buka blog saya yang lain? Saya punya 5 blog. Wassalam,
    BSH
    ***

  3. tedynoize on

    allahu akbar

  4. budimanshartoyo on

    Bung Tedynoize. Kekaguman Anda, Anda ekspresikan dengan takbir. Ya, Allahu akbar!

  5. Ruwihadi on

    Berani menjadi Nabi bagi Diri Sendiri

    Assalamualaikum Pak Budiman S Hartoyo yang baik. Saya senang membaca tulisan Anda, tentang Tanah yang Dijanjikan itu. Saya sependapat dengan Goenawan Mohamad (Tempo, 1980-an) bahwa ada dua Yesus, yaitu (1) Yesus yang mitos (diciptakan oleh Agama), dan (2) Yesus yang historis (diciptakan oleh penelitian ilmiah). Analog dengan itu, ada dua komunitas Yahudi, yaitu yang mitos dan historis. Komunitas Yahudi yang tertulis dalam Perjanjian Lama dan Baru itu, adalah yang mitos. Usia mitos dalam Agama-agama adalah ribuan tahun. Satu dari mitos dalam Agama itu adalah Tuhan adalah the Old Man in the Sky, dan bumi adalah datar. (Maka lahirlah mitos tentang israk dan mikraj, yang difahami secara hurufiah; lihat Sejarah Hidup Muhammad oleh Haikal, terjemahan Ali Audah.) Ribuan tahun ummat manusia hidup dalam dunia mitos. Tetapi, dunia mitos yang berusia ribuan tahun itu rontok dengan sendirinya, dengan tumbuhnya akal-sehat, filsafat, dan ilmu. Kerontokan dunia mitos yang berusia ribuan tahun itu, digaris-bawahi oleh para pemikir Neo Positivisme, begini, ‘Kuda yang mampu hidup tanpa makan dan minum sampai pada hari ke 60, mungkin akan mati pada hari ke 61′(lihat Filsadat Barat, oleh Bertens). Artinya, suatu mitos yang mampu bertahan puluhan ribu tahun, besok pagi mungkin sudah rontok. Sebuah pertanyaan, mampukah manusia (sebagai individu dan komunitas) hidup optimum jika tanpa mitos? Hidup tanpa mitos artinya hidup dalam dunia fakta yang pahit. Saya percaya, untuk kita yang berusia sudah 20-an lebih, adalah lebih optimum jika hidup dalam dunia fakta yang pahit itu; yaitu, bebas dari dunia mitos. Itu artinya, kita butuh Agama dan keberagamaan yang bebas dari dunia mitos, yaitu Mistisisme pribadi yang otentik, atau berani untuk menjadi Nabi bagi diri kita sendiri (Buddha, Krishnamurti, dan Sasrakatana). Dalam konteks Mistisisme pribadi yang otentik itu, dunia mitos yang kita warisi dari masa lalu, hanya berfungsi untuk memperkaya batin kita. Nuwun, Rabu, 29 Juli 2009, 18:29:53

  6. Ruwihadi on

    Referensi tentang Neo Positivisme

    Assalamualaikum Pak Budiman yang baik, untuk lebih tepat, tentang Neo Posivisme itu, silahkan lihat,
    (1) K. Bertens, Filsafat Barat dalam Abad XX Jilid I, Jakarta: P. T. Gramedia, 1981
    (2) _________. Filsafat Barat Abad XX: Prancis, vol. 2, Jakarta: Gramedia, 1985
    (3) P. Frank, Philosophy of Science: the link between science and philosophy, Westport: Greenwood Press Pub.,1974
    Semoga bermanfaat, dan nuwun, 7.06, 30/07/09, Kamis

  7. harih singh nalwa on

    fuck to palestine


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: